Pernah Makan Nasi+Garam Sekeluarga Sampai Bisa Beli MOBIL

Saya dilahirkan dari keluarga biasa saja, lahir pada awal tahun 90-an membuat merasakan berbagai macam hal. Ayah bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik garmen (pabrik tekstil pembuatan pakaian, dari benang ke pakaian jadi atau setengah jadi) di daerah karawang, jarak dari pabrik ke kontrakan memang tidak terlalu jauh, mungkin bisa ditempuh 20 menit dengan berjalan kaki, yaa pada saat itu ayah tidak memiliki kendaraan apapun, bahkan sepeda sekali pun.

Ibu hanya seorang ibu rumah tangga biasa, beliau hanya mengurus saya yang kala itu masih kecil, saya ingat dulu mungkin saya berumur 4 atau 5 tahun, belum masuk sekolah dasar. Ibu mengurus saya di kontrakan satu petak yang cukup untuk kami bertiga,saya anak pertama dalam keluarga ini.

Pagi hari saya sering sekali mengambil telur entog di samping rumah tetangga, kadang ada telurnya dan kadang juga tidak ada, tapi tetangga tidak mempermasalahkan itu, mungkin mereka tahu bagaimana kondisi keluarga kami, saya sangat ingin makan telur, karena memang sangat jarang sekali makan telur apalagi daging.

Bahkan kami selalu makan nasi hanya dengan garam setiap malam hari, tapi itu tidak membuat saya kecewa atau bahkan tidak mau makan, saya sangat mengerti kondisi ekonomi keluarga. Saya masih ingat selesai magrib makan nasi dengan garam sambil menonton tayangan televisi Family 100, kala itu hostnya Sony Tulung.

MASUK SEKOLAH DASAR
Pada tahun 2000, kami sekeluarga pindah dari kontrakan lama ke kontrakan yang baru, mungkin alasan kami pindah karena saya mulai masuk sekolah dasar, jarak kontrakan yang baru ke SD sangat dekat, hanya 20 meter saja, jadi orang tua tidak terlalu mengkhawatirkanku.

Dikala anak SD meminta di belikan playstation jika ranking 3 besar di kelasnya, justu saya bukan menginginkan itu, saya pernah meminta kepada ibu jikalau saya ranking 3 besar minta untuk dibelikan Sprite, yaa minuman sprite menjadi impian. Harganya sekitar Rp1200/botol, tapi bagi saya itu adalah minuman yang sangat mewah, tidak semuanya bisa merasakan kenikmatan minuman bersoda rasa lemon ini, tapi apa daya saya hanya bisa sampai diperingkat 10 besar saja, itu pun Caturwulan (istilah semester) ke-III tahun 2001.

Ibu mulai bekerja di sebuah konveksi rumahan, kadang saya diajak ke konveksi itu. Alhamdulilah dengan semuanya bekerja ekonomi agak membaik, tapi entah mengapa televisi yang menjadi sarana hiburan dijual kala itu. Saya yang sangat ingin menonton televisi, selalu uring-uringan kepada ibu untuk di belikan tv, tapi karena tidak ada biaya dan televisi pada saat itu menjadi barang mewah dan mahal, akhirnya saya di ajak ke rumah saudara (kakak ibu) untuk menonton televisi setiap selesai shalat magrib.

Acara televisi pada saat itu sinetron "Wah cantiknya" yang di perankan oleh Anjasamara sebagai Cecep dan pemeran wanitanya ialah Tamara Blezensky, selain menonton tv, saya juga bermain dengan saudara yang seumuran, entah mengapa itu adalah masa-masa keemasan dimana silaturahmi terjalin dengan erat, berbeda dengan sekarang, setiap rumah memiliki beberapa tv, bahkan di kamar pun ada tv.

AYAH MULAI BERDAGANG
Pada tahun 2003 ayah mulai berhenti dari pabrik garmen, beliau mulai membuka warung kecil-kecilan di rumah, menjajakan jajanan anak-anak, seperti permen, kue dan snack-snack. Semakin lama warung semakin beragam apa yang di jual, mulai dari rokok, sabun dan kebutuhan rumah tangga lainnya, masih kecil memang, tapi cukup untuk kami makan dan biaya sekolah.

tahun ke tahun belum ada peningkatan dalam hal penjualannya, tempat kami berempat tidur (sudah ada adik) bersatu padu dengan etalase dagangan, kami mengontrak di kontrakan satu petak, dan harus berbagi ruang dengan barang dagangan, kadang saya merasa malu jika ada tamu seperti teman sekolah atau guru, tidak ada tempat untuk menjamunya.

PERNAH MEMBUAT IBU MENANGIS
Tahun 2005 saya sudah masuk kelas 6 sekolah dasar, hal yang paling tidak bisa dilupakan adalah  pernah membuat ibu menangis karena keegoisan saya ini. Saat itu seragam olahraga sekolah berubah baik dari desain dan warnanya, semuanya sudah membeli seragam baru di kelas, kecuali saya yang belum memilikinya, akhirnya saya meminta kepada ibu untuk dibelikan seragam baru itu, tapi ibu menolak dengan alasan akan lulus dan sayang jika harus membelinya, kala itu harganya sekitar Rp250ribu, uang yang cukup banyak bagi keluarga kami yang pas-pasan.

Saya marah merengek minta di belikan, ibu pun terus menolak hingga akhirnya dia menangis sambil berkata akan pergi (sambil membereskan pakaiannya), saya pun kaget mengapa jadi seperti ini, beliau meneteskan air mata kekecewaan yang amat dalam, saya menarik tangannya yang akan keluar dari kontrakan dengan membawa pakaian, mungkin itu hanya agar saya paham bagaimana kondisi keluarga.

Seminggu kemudian saya di belikan seragam olah raga baru itu, jujur awalnya meminta dibelikan karena malu hanya saya yang belum memakai seragam baru, tapi setelah memakainya entah mengapa hati ini tidak enak, apakah harus meminta baju hingga membuat ibu menangis seperti itu, inilah yang menjadi kesalahan yang tidak pernah saya maafkan hingga sekarang.

USAHA YAH SEMAKIN MAJU
Pada tahun 2007 warung semakin lengkap, alhamdulilah pembeli pun semakin banyak. Awalnya membeli barang-barang pergi ke toko grosir, namun sekarang ada sebagian sales (supplier) datang ke warung untuk menyuplai barang-barang tertentu, dengan adanya supplier pembayaran pun semakin mudah karena dengan menggunakan sistem jatuh tempo, dengan ini tidak perlu menggunakan dana modal.

SEKOLAH SMA JALAN KAKI
Tahun 2010 saya mulai masuk sekolah menengah atas, jarak dari sekolah ke rumah cukup jauh sekitar 3 km. Saya hanya dibekali uang sebesar Rp7000, yang mana Rp2000 untuk ongkos pulang pergi naik angkot dan Rp5000 digunakan untuk bekal makan di sekolah.

Kadang uang Rp5000 pun tidak cukup untuk jajan, ada biaya uang kas dan biaya lainnya seputar kelas, terkadang saya juga sering pulang dengan berjalan kaki ke rumah karena memang kehabisan uang.

Pernah suatu ketika ayah menawari membeli motor untuk sya pergi sekolah, beliau iba dengan saya yang pulang pergi naik angkot dan bahkan dengan berjalan kaki, beliau tahu dari saudara yang tidak sengaja melihat saya pulang jalan kaki sepulang sekolah. Tapi saya menolaknya, dengan warung yang tidak terlalu besar, saya khawatir setoran bulanan motor tidak akan terbayar, atau malah saya lebih khawatir warung ayah bangkrut karena hanya demi membeli sebuah motor.

Saya mengatakan nanti saja, kalau saya sudah bekerja pun bisa membeli apa yang di mau, termasuk motor. Alhamdulilah selulus sekolah saya bisa bekerja di perusahaan otomotif Yamaha sembari kuliah di salah satu universitas swasta.

Setahun bekerja saya bisa membeli motor impian yang sedari dulu di inginkan, selain itu saya juga bisa membiayai kuliah dengan hasil keringat sendiri. Sebagian tabungan selama bekerja di yamaha saya berikan kepada ayah untuk modal usaha agar semakin banyak stoknya.

MEMBANGUN RUMAH DAN TOKO
Ayah membangun rumah sendiri di tanah yang sudah sejak dulu di beli, namun baru saat ini bisa membangun karena sudah memiliki biaya yang cukup. Alhamdulilah rumah dengan 3 kamar tidur, 1 ruang tamu, dapur dan kamar mandi sudah ada, walaupun belum sepenuhnya rampung, tapi kami masih bisa berlindung dari hujan dan terik matahari.

Biaya tahunan kontrakan dimana warung ayah berdiri, semakin tahun semakin mahal, mungkin ini adalah bisnis sang pemilik kontrakan, melihat banyaknya pelanggan yang berbelanja ke warung ayah, maka si pemilik kontrakan pun ingin mengambil keuntungan.

Pada tahun 2015 ayah membeli tanah seluas 100 meter persegi, yang mana terbagi dua, sebagian untuk dijadikan toko dan sebagian lagi dijadikan kontrakan. Alhamdulilah 2 kontrakan sudah rampung, dan toko pun menyusul rampung dalam waktu 1 bulan.

Waktu yang cepat untuk membuat toko dengan dua lantai, ayah sengaja meminjam dana dari bank agar proses pembangunan cepat selesai, walaupun ada cicilan yang dibayarkan setiap bulan, tapi itu semua bisa diatasi.

KELUARGA KAMI TERCUKUPI DALAM HAL FINANSIAL
Menurut saya, waktu 10 tahun memulai usaha hingga memiliki sebuah rumah, toko dan kontrakan adalah waktu yang sangat cepat dan pesat, ayah mematok harga sembako jauh lebih murah dari toko manapun (eceran), bahkan harga barang di minimarket (indomaret/alfamart) jauh lebih mahal, oleh karenanya toko ayah mulai kebanjiran pelanggan, bahkan mereka datang dari kecamatan sebelah demi membeli barang yang lebih murah di toko ini.

Roda itu berputar, mungkin itu adalah kata yang cocok untuk menggmbarkan bagaimana kondisi ekonomi keluarga kami, dulu kami serba kekurangan, sekarang serba ada. Segala keinginan terwujud, mungkin bagi dua adik saya tidak merasakan bagaimana sulitnya perekonomian keluarga sebelum mereka lahir, beruntungnya mereka, cukup kami bertiga yang merasakan kepahitan itu semua.

ALHAMDULILAH BISA BELI MOBIL
Tahun 2018 kami membeli sebuah mobil keluaran baru, merek Toyota Rush varian terbaru. Kami membeli mobil secara cash, karena memang sejak ekonomi tercukupi membeli barang apapun bisa cash, seperti tahun sebelumnya membeli motor pun cash.

Saya dan ayah patungan dalam membeli sebuah mobil, alhamdulilah saya memiliki tabungan yang cukup besar selama bekerja di perusahaan mobil Honda, awalnya bingung digunakan untuk apa uang ini, modal usaha, modal menikah atau membeli sebidang tanah. Tapi saya mendengar cerita ibu yang sangat ingin mendambakan kendaraan roda empat, akhirnya uang itu digunakan untuk membeli mobil.

Sebagai balas budi kepada orang tua hanya itu yang bisa saya lakukan, walaupun sebenarnya jasa mereka takkan bisa terbalaskan oleh harta dan bahkan seluruh harta di muka bumi ini.


Share this article :
+
0 Komentar untuk "Pernah Makan Nasi+Garam Sekeluarga Sampai Bisa Beli MOBIL"

 
Template By Kunci Dunia