Menjadi Korban Covid19 yang Sesungguhnya

Pandemi yang muncul pada akhir tahun 2019 dan mulai menyerang hampir semua negara di dunia semestinya menjadi pembelajaran pemerintah.

Pandemi yang tidak tahu kapan berakhirnya, menjadi persoalan besar bagi setiap orang, khususnya dalam bidang perekonomian. Bagaimana tidak, setiap orang pasti mengalami dampak buruk dari pandemi ini secara tidak langsung.

Mungkin mereka masih beruntung jika penghasilannya mulai berkurang dari sebelum masa pandemi. Tapi disisi lain masih sangat banyak orang yang kurang beruntung, misalnya kehilangan pekerjaannya.

KORBAN SESUNGGUHNYA COVID19
Korban sesungguhnya dari pandemi ialah mereka yang kehilangan pekerjaannya ditengah masa sulit pandemi. Kok bukan yang positif covid19 korban sesungguhnya? 

Menurut WHO kematian akibat pandemi corona hanya berkisar 5%, itu artinya seseorang yang sudah terinfeksi masih ada peluang hidup sebanyak 95%. Apalagi mereka yang masih berumur kurang dari 50 tahun.

Bagi seseorang yang terinfeksi covid19, mereka dikarantina selama dua minggu atau paling lama satu bulan. Setelah sembuh bisa melakukan aktifitas secara normal yang tentunya dengan protokol kesehatan yang ada.

Namun bagi mereka yang kehilangan pekerjaan belum tentu dalam satu bulan bisa mendapatkan pekerjaan baru. Toh perusahaan pun masih menutup recruitment bagi calon pekerja baru.

SAYA MENJADI KORBAN
Sedikit bercerita tentang saya yang tidak bekerja selama tiga bulan lamanya. Sisi positifnya saya bisa stay at home dan mencegah penyebaran virus setidaknya di dalam keluarga.

Ternyata dampak negatifnya jauh lebih besar, saya yang kebetulan habis kontrak pada bulan april 2020, saat itu juga perusahaan merumahkan seluruh karyawannya selama satu bulan kedepan.

Padahal saya sudah ada kepastian perpanjangan kontrak selama enam bulan kedepan, namun hal yang disayangkan adalah belum adanya tanda tangan kontrak secara resmi diatas Materai.

Seluruh karyawan yang masih dalam ikatan kontrak maupun yang sudah menetap, masih diberi gaji setiap bulannya selama masa dirumahkan berlangsung, walaupun hanya 75%, sudah lebih dari cukup untuk menghidupi keluarga.

Jika saya sudah mendatanganj perjanjian perpanjangan kontrak, mungkin akhirnya tidak akan seperti ini. Saya putus hubungan dengan perusahaan selama masa pandemi. 

Parahnya lagi, perusahaan memperpanjang masa libur menjadi tiga bulan. Entah perusahaan yang beruntung atau saya yang memang mendapatkan cobaan. Sama sekali tidak ada pemasukan selama dirumah.

ISTRI MELAHIRKAN
Satu bulan stay at home, istri melahirkan anak pertama saya. Sungguh bahagianya pada waktu itu, walaupun sempat memikirkan bagaimana biaya kedepannya. Sementara libur perusahaan masih dua bulan lagi.

Hanya pasrah yang di rasa, namun sisi positifnya saya bisa mengurus anak bersama istri pada saat itu. Saya masih bersyukur istri masih bisa bekerja di perusahaan pada saat hamil.

Masa cuti melahirkan pun masih tetap digaji secara utuh, dibalik cobaan ternyata Allah swt masih memberikan kenikmatan yang diluar dugaan.

Sebenarnya sangat malu jika saya ikut memakan penghasilan istri dikala saya tidak ada pemasukan sama sekali. Tapi dia mengerti dengan keadaan yang menimpa saya, jadi untuk kesekian kalinya bersyukur didampingi istri yang mau menerima keadaan suaminya.

MEMAKLUMI PANDEMI
Walau bagaimana pun harus memaklumi pandemi saat ini, tidak tahu kapan berakhirnya. Bahkan pekan pertama sistem New Normal diberlakukan, jumlah terinfeksi semakin merangkak naik.

Berdoa sudah, sisanya hanya berserah diri kepada yang maha kuasa. Semoga ada hikmah di balik ini semua, apakah akan segera berakhir atau membiasakan diri dengan kehidupan baru bersama Covid19. Wallahua’lam.
Share this article :
+
0 Komentar untuk "Menjadi Korban Covid19 yang Sesungguhnya"

 
Template By Kunci Dunia