Pengalaman Menemani Istri Melahirkan Secara Langsung

Menjadi calon ayah membuat perasaan ini tidak karuan, rasa senang hingga rasa takut pun sering terbenak. Saya yang baru menikah satu tahun yang lalu, alhamdulilah dikaruniai buah hati tidak lama kemudian.

Masa kehamilan istri menjadi masa-masa yang lumayan sulit, mulai dari makanan yang harus di makan, kesehatan hingga ngidam yang aneh aneh.

Tepat 38 minggu kehamilan, istri masuk ke rumah sakit karena mengalami pecah ketuban, namun tidak disertai rasa mulas. Hal ini membuat dokter memutuskan untuk memberi obat perangsang mulas.

PROSES INDUKSI / PERANGSANG MULAS
Jika seorang ibu hamil mengalami Ketuban yang terus merembes keluar, maka yang harus dilakukan ialah membuat perangsang mulas agar bayi segera dilahirkan atau melalui jalan operasi caesar.

Hal ini karena ketuban rembes membuat pasokan oksigen bayi dalam kandungan semakin menipis, oleh karena itu bayi harus segera dikeluarkan agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.

Perawat membuat persetujuan dengan saya mengenai pemberian induksi kepada istri, beliau bilang proses ini akan membuat rasa sakit akibat mulas akan hebat. Jadi akhirnya saya mendiskusikan dengan istri terkait hal ini.

Setelah setengah jam berdiskusi, meminta saran dari teman yang sudah menjadi bidan, kerabat yang pernah mengalami hal yang sama, saya menyutujui pemberian induksi ini.

DAMPAK INDUKSI 
Obat perangsang induksi diberikan bukan melalui suntikan langsung kepada tubuh, melainkan melalui cairan infus. Beberapa menit berlalu tidak ada reaksi apapun setelah di berikannya induksi.

Namun setelah setengah jam, istri sudah mulai merasa mulas namun tidak terlalu mulas. Seperti ingin buang air besar tapi masih bisa ditahan.

Satu jam kemudian rasa mulas semakin menjadi-jadi, mulai merintih kesakitan dibagian perut. Saya yang merasa khawatir juga takut, mulai menenangkan istri, kala itu ada ibu saya yang datang ke rumah sakit, ibu terus mengusap punggung istri secara perlahan. Ternyata hal itu agak menenangkan rasa sakitnya.

Ibu akhirnya pulang karena kala itu sudah malam sekitar pukul 9 malam dan dirumah masih ada adik paling kecil yang tidak akan bisa tidur sendiri. Terlebih sedang ada wabah covid19 yang membuat pengunjung yang menemani pasien hanya satu orang saja.

Hanya tinggal saya bersama istri diruang persalinan, pukul 10 malam istri terus merintih kesakitan, bahkan hingga berteriak. Saya mencoba menenangkannya dengan terus mengusap dibagian perut dan punggung.

Istri terus mengeluh kesakitan hingga mengatakan bahwa rasanya mata seperti akan keluar, dan bahkan sempat mengatakan  ingin mati saja jika terus seperti ini rasa sakitnya.

Bidan terus memeriksa pembukaan melahirkan setiap jamnya, hampir 2 jam proses induksi terus berlangsung. Selama cairan infus masih ada, maka selama itu pula rasa mulas terus berkelanjutan tanpa henti.

Bidan mengatakan boleh istirahat dulu dari induksi jika mau, cairan infus akan diganti dengan cairan infus biasa. Istri tidak mau, dia khawatir ketuban semakin rembes dan akhirnya harus menjalani operasi sesar.

Setelah 3 jam berlalu, akhirnya istri menyerah dan ingin istirahat dari rasa mulas yang hebat ini. Namun setelah diganti dengan cairan infus biasa, rasa mulas masih berkelanjutan, bahkan lebih sakit dari sebelum di ganti.

Istri mulai meronta kesakitan dan terus menangis, ucapannya semakin kacau saat itu. Saya rasa ucapannya  sudah diluar kesadarannya. Ia bahkan berkata meminta maaf kepada ibu dan ayahnya, turut merasakan sakitnya akan melahirkan.

PROSES MELAHIRKAN
Setelah 4 jam induksi yang begitu menyakitkan, tibalah di pembukaan 7/8 atau bisa disebut fase pembukaan terakhir, artinya dalam satu jam kedepan bayi bisa dilahirkan.

Istri dibantu oleh dua orang bidan dan saya juga ikut menemani istri untuk terus menyemangatinya. Istri yang baru melahirkan untuk pertama kalinya, selalu keliru pada saat mengejan. Bidan terus membinbing cara mengejan yang benar.

Tapi keadaan istri yang semakin kacau, konsentrasinya berkurang. Saya memegangi kaki istri sebelah kanan dan satunya lagi oleh bidan, sedangkan bidan kedua mendorong perut istri dari bagian atas.

Saya dan kedua bidan sering berganti ganti posisi, jika bidan yang mendorong perut sudah mulai kelelahan, maka bidan satunya kagi akan menggantikannya. Saya secara berkala memberi minum teh hangat manis kepada istri, karena istri selalu bilang kehausan dan kelelahan yang luar biasa.

Sungguh tidak tega melihat perjuangannya, ya Allah seperti inilah ternyata perjuangan seorang ibu, saya menyaksikannya sendiri secara langsung, kadang saya selalu ingat kesalahan saya terhadap istri maupun ibu.

30 MENIT BERLALU
Bidan terus mengatakan pada istri agar terus semangat dan meyakini bisa melahirkan secara normal. Bidan juga mengatakan bahwa proses melahirkan secara normal tidak boleh lebih dari satu jam, jika melebihi satu jam, besar kemungkinan bayi akan kehabisan oksigen, dan terpaksa harus melalui jalan caesar.

35 menit berlalu kepala bayi sudah mulai terlihat jelas, boleh dikatakan masih 60%. Sementara waktu terus berjalan, bidan secara berkala terus memeriksa detak jantung bayi dengan alat ultrasound.

Saya juga melihat perjuangan bidan yang semakin melemah kelelahan, istri sudah mulai kelelahan tidak karuan, tapi saya terus menyemanagtinya dengan kata kata “semangat, kamu pasti bisa, semua ini demi anak kita, lihat kepalanya sudah mulai terlihat, ayo ayo, bismilah”.

40 menit berlalu kepala bayi sudah mulai terlihat jelas, mungkin sekitar 90% dan sebentar lagi akan keluar. Barulah dimenit ke 45 bayi keluar, itu pun dibantu dengan menyobek dibagian mrs.v agar bayi keluar dengan lancar dan tidak tercekik dibagian leher.

Saya melihat secara langsung bagaimana bayi keluar dari rahim, Masya Allah begitu hebatnya ciptaan Allah yang bisa mengeluarkan bayi dari lubang yang begitu sempit.

BAYI TIDAK MENANGIS
Pada saat dilahirkan, bayi tidak secara langsung menangis, mungkin berselang beberapa menit baru menangis, itupun sepertinya dibantu oleh bidan agar bayi cepat menangis. 

Saya tidak langsung menghampiri bayi saat itu, karena saya tahu pasti bidan melakukan hal yang terbaik, sementara itu saya masih menemani istri pasca beberapa menit melahirkan.

Istri terlihat melamun setelah melahirkan, tidak berbicara sedikitpun, mungkin rasa lega yang luar biasa setelah berjam jam kesakitan. Bahkan disuntik dan di jahit pun terlihat masih melamun seperti tidak merasakan apapun, padahal saya sendiri ngeri ketika proses jahit dilakukan bahkan tanpa bius sama sekali.


ALHAMDULILAH
Setelah satu jam berlalu kami mulai berkomunikasi dan bercerita satu sama lain, istri menceritakan bagaimana sakitnya mulas dan lelahnya mengejan. Hal yang melegakan ialah setelah bayi keluar, rasa sakit hilang seketika seperti sulap. Tidak merasakan sakit dan mulas sama sekali, namun se te lah 20 menit barulah rasa sakit dan pegal muncul.

Akhirnya saya menghungi orang tua juga mertua, saat itu pukul 2 dini hari dan saat bulan Ramadhan. Orang tua juga mertua yang sedang mempersiapkan sahur, bergegas kerumah sakit untuk menjenguk.

Kami sengaja tidak memberitahu mereka sebelum bayi lahir, kami tidak mau merepotkan. Kami juga ingin belajar dan berjuang seperti apa rasanya menjadi orang tua, terlebih detik detik anak kami dilahirkan. Kami bisa melewati ini semua.

Alhamdulilah istri dan anak sehat hingga saat ini, semoga Allah meridhoi segalanya.


Share this article :
+
0 Komentar untuk "Pengalaman Menemani Istri Melahirkan Secara Langsung"

 
Template By Kunci Dunia