Basa-basi Candaan yang Berujung Bullying | Saya Kebal Buli

Basa-basi merupakan hal yang lumrah dikalangan masyarakat, dengan basa basilah seseorang bisa memulai percapakan yang menarik dan tidak membosankan. Bayangkan saja jika basa basi tidak ada dalam awal mula percakapan, mungkin akan canggung dan akhirnya membosankan.

BASA BASI DIKALANGAN MASYARAKAT
Pada umumnya basa basi dilakukan jika seseorang akan bertemu dengan orang baru, teman lama yang baru bertemu kembali, atau seseorang yang tidak akrab dengan orang lain namun kenal, misalnya tetangga atau teman kerja.

BASA BASI BERUJUNG BULLYING
Akhir-akhir ini sepertinya basa-basi menjadi berevolusi seiring berjalannya waktu, bukannya menanyakan kabar atau sedang sibuk dengan kegiatan apa, alih-alih menjadi pertanyaan yang kurang mengenakan dihati. "hey, kok sekarang gemukan sih?" "elo dari dulu gemuk, gak pingin diet?", "Kapan nikah, perasaan jomblo udah lama", secara tidak sadar seseorang yang mengatakan hal tersebut spontan dan tidak peduli apa efeknya terhadap orang yang ditanya.

Mungkin sebagian orang menggap pertanyaan tersebut hanyalah guyonan, tapi ada juga orang yang mengganggap pertanyaan itu adalah verbal bullying/body shamming. Nah, orang yang menganggap kata bullying inilah yang membuat hidup mereka seperti terusik, lagi pula mengapa mereka menanyakan hal sifatnya memojokan, dan inilah yang pernah bahkan sering saya alami.

MENJADI KORBAN BULLYING
Saya adalah seseorang yang boleh dikatakan introvert, tidak terlalu suka keramaian dan sebenarnya malas akan percakapan yang dimulai dengan basa-basi. Saya sudah sadar akan kekurangan diri sendiri sejak kecil, boleh dikatakan gerak-gerik tidak seperti pria pada umumnya. Menurut pandangan mayoritas orang pria adalah makhluk yang kuat, gentle, mucle, jantan atau apalah, namun diluar sana nyatanya tidak semua pria demikian. Pria ada yang cenderung, lembut, kemayu atau berperasaan kuat, namun itu tidak berarti mereka itu lemah tidak berdaya.

Inilah yang terjadi pada diri saya, saya mengakui bahwa diri ini memiliki kekurangan dan tidak bisa disamakan dengan orang lain. Sedikit kemayu sudah ada dalam karakter saya sejak kecil, tidak terlalu suka bergaul tapi bukan anti sosial, saya pun masih akrab dengan teman-teman tertentu, tapi sebagian dari mereka memandang bahwa kekurangan yang saya alami ini salah dan pada akhirnya menjadi korban bullying.

SEJAK KECIL MENJADI KORBAN BULLYING
Pada masa-masa sekolah adalah masa yang sulit yang pernah dialami, sejak SD menjadi korban bullying walaupun itu dengan kata-kata bukan fisik, namun kata itu masih terngiang hingga sekarang. Mereka mengatakan bahwa saya tidak seperti lelaki kebanyakan, lebih seperti perempuan, bahkan kata yang sering terucap dari mulut mereka adalah Banci/Bencong. Mungkin jika masih SD dan teman-teman memanggil seperti itu okelah saya sangat amat memakluminya, yaa namanya juga anak SD mereka belum terlalu memikirkan perasaan orang lain alias masih kanak-kanak.

Namun SMP hingga SMA masih ada saja yang melakukan verbal bullying, walaupun jumlahnya tidak sebanyak sewaktu SD. Semakin lama saya semakin kebal terhadap mereka yang membully, mereka juga belum tentu lebih baik dari saya. Sebagian dari mereka mengganggap remeh akan hal ini, bahkan menjadi bahan candaan yang sebenarnya tidak lucu, setiap kali ada yang membully saya biarkan saja dan bahkan saya tidak ingin akrab dengan orang itu, kalau saja diakrabi maka mereka akan lebih lagi berkata yang tidak pantas. Jadi saya hanya berteman dengan orang yang mengerti siapa saya dan  mengerti akan kekurangan.

HINGGA SEKARANG
Bullying masih terus saya alami hingga masuk bangku kuliah dan bekerja, walaupun sifatnya bercanda namun saya tidak pernah mengganggap itu candaan sama sekali. Sekali mereka membully maka saat itu juga saya tidak pernah bisa akrab dengan orang itu, jadi bagaimana jika teman satu kerjaan demikian? saya biarkan dan ada saatnya mereka mengerti dan tidak membully lagi.

Pernah suatu ketika saya masih baru bekerja disalah satu perusahaan, dalam satu departmen ada 20 orang anggota dan sebagian bekerja dengan sistem shift. Awalnya mereka ramah, namun semakin kesini sepertinya mereka tahu bagaimana kekurangan saya, mereka bercanda dan kadang dengan membawa-bawa kata yang tidak mengenakan. Awalnya biasa saja menanggapinya, namun saya semakin tidak tahan lagi, apalagi yang membully itu bukan teman sebaya saja, ada juga yang lebih senior dan bahkan manager saya sendiri, walaupun tidak langsung mengatakan saya seperti perempuan tapi saya paham betul apa maksud perkataannya, jujur awalnya saya salut dengan manager ini, tapi karena candaannya yang menyinggung perasaan saya ilfeel terhadapnya, bahkan sakit hati.

Pernah suatu ketika saya mendengar obrolan teman kerja, yang menyinggung masalah pria yang seperti wanita, dalam artian bukan cara berpakaiannya namun lebih ke sikapnya atau gerak geriknya. Dia mengatakan bahwa orang tersebut akan biasanya ketahuan dari wajahnya, dan mereka berbisik disamping saya, saya langsung berfikir jadi mungkin sepertinya mereka terganggu dengan kehadiran saya didepartemen tersebut. Pantas saja  sudah hampir 6 bulan bekerja beberapa diantara mereka seperti tidak menerima saya, bahkan tidak mau akrab, padahal saya sudah berusaha untuk akrab dengan mereka, tapi apa mau dikata jika mereka terganggu maka akan seperti dipaksakan.

APAKAH KORBAN BULLYING HARUS BERUBAH?
Menjadi seseorang yang memiliki kekurangan itu adalah suatu anugerah tersendiri bagi mereka yang memahaminya, namun ada pula yang mengganggap itu suatu ketidak adilan. Seseorang yang gemuk selalu dibully seperti gajah, yang berkulit gelap dibilang dari afrika, wajah berjerawat juga kadang dibully. Lalu apakah mereka harus berubah agar tidak dibully? saya rasa itu tidak perlu, jika kita nyaman dengan kekurangan kita mengapa harus diubah? jika kita bisa membuat sesuatu kekurangan menjadi kelebihan mengapa harus dihilangkan?

Kembali kepribadi masing-masing bagaimana menanggapi hal tersebut, saya pribadi akan lebih tidak mendengar apa yang mereka katakan jika itu bersifat negatif, saya tidak harus menjadi orang lain sesuai apa yang dikatakan mereka, cukup menjadi diri sendiri itu akan jauh lebih baik. Namun jika itu suatu kritikan yang membangun saya akan lebih terbuka dengan pendapatnya.

UNTUK ANDA PEMBULLY
Basa-basilah dengan sewajarnya tanpa harus berkata kekurangan seseorang, tidak semua orang mengganggap basa-basi yang berujung pembullian itu sebuah candaan, bahkan mereka mengganggap itu serius. Pikirkan perasaan orang yang dibully dan atau anda bisa bayangkan bagaimana jika anda diposisi yang dibully. Atau Anda mungkin tidak pernah dibully?, tapi apakah anda tahu perasaan sahabat anda jika dibully? apakah anda akan membelanya? atau mungkin anak anda, adik, kakak, saudara, orang tua anda pernah menjadi korban bullying yang bisa membuat mereka frustasi dan anda akan tinggal diam saja?. Mulai sekarang belajarlah menghargai suatu kekurangan orang lain, jika tidak suka terhadap kekurangan orang lain maka bicaralah dengan baik, beri ia nasihat. Jika tidak bisa berbicara dengannya bahkan memberi nasihat lebih baik anda diam dan tidak perlu berbasa-basi hal yang membuat orang lain sakit hati.
Tag : Opini
0 Komentar untuk "Basa-basi Candaan yang Berujung Bullying | Saya Kebal Buli"

Silahkan Komentar sobat !
Berkomentarlah dengan sopan dan tidak menaruh link aktif!
Baca Aturan Berkomentar

Back To Top