Ta'aruf yang Benar Untuk yang Sungguh-sungguh Ingin Menikah

Ta'aruf berasal dari bahasa arab, berasal dari Arofa-Arif yang artinya tahu, mengetahui. Ta'aruf berarti saling mengetahui atau lebih tepatnya secara istilah saling memperkenalkan satu sama lain. Taaruf saat ini sudah menjadi bahasa serapan di Indonesia.

PACARAN MENJADI ADAT
Dalam agama islam tidak ada yang namanya 'Pacaran', walaupun pacaran memiliki hal positif dimana bisa lebih mengetahui lebih dalam bagaimana sifat antar pasangan, sehingga tidak ada penyesalan nantinya jikalau melangkah ke jenjang yang lebih serius yakni pernikahan.

Namun, pacaran sendiri terbagi dua, ada yang sehat dan ada juga yang tidak sehat. Pacaran tidak sehat inilah yang menjadi mayoritas adat di dalam masyarakat Indonesia. Seks bebas menjadi prioriti utama dalam hubungan pacaran, walaupun tidak semuanya seperti itu.

Saya mengakui bahwa dulu menjalani yang namanya pacaran, gaya pacaran kami pun sehat, yaitu ingin saling mengenal satu sama lain, bukan maksud yang tidak-tidak.

ISTILAH TAARUF
Istilah Ta'aruf saat ini mulai nge-hits dikalangan seseorang yang ingin menjalani hubungan serius seperti pernikahan. Namun seperti apa sih proses ta'aruf itu sendiri? apakah sama halnya seperti berpacaran? apakah seperti pacaran namun terbatas baik secara fisik maupun pengetahuan antar pasangan?

Saya yang memang tidak ahli dibidang ini, lebih tepatnya ingin berbagi berdasarkan pengalaman. Pengalaman disini bukanlah saya, tapi teman saya yang sedang menjalani ta'aruf.

Jadi saya mulai dari sini saja, Pada suatu ketika teman saya 'F' (laki-laki, 26th) meminta ingin diantar untuk pergi kerumah calon istrinya bersama keluarga besarnya, saya yang tidak pernah tahu dia memiliki calon istri kaget mendengar berita itu.

Dengan senang hati saya mengantarkan 'F' ini bersama keluarganya ke kediaman calon istrinya itu, di dampingi oleh guru mengajinya yang hingga sekarang masih akrab dan sering bertemu, beliau (ustadz)yang  menjadi pembicara nantinya disana.

Pada saat acara perkenalan keluarga dimulai (bukan lamaran), ustadz berbincang bahwa si F ini ingin menikah namun tidak ada calonnya, akhirnya F diperkenalkan ke seorang wanita (H) melalui Ustadzah juga.

Jadi singkatnya seperti ini, Ustadz memiliki murid si F, si Ustadz memiliki kenalan yang juga seorang Ustadzah, dan Ustadzah ini pun memiliki murid bernama H yang sama-sama memiliki visi yang sama, yaitu ingin menikah.

F dan H ini memiliki prinsip tidak ingin pacaran sebelum menikah, mereka ingin kenal dan langsung menikah. Oleh karena itu baik Ustadz dan ustadzah memperkenalkan mereka dengan cara 'Ta'aruf''.

PROSES TAARUF
Saya yang sangat fokus dengan cerita Ustadz si F yang terus menceritakan bagaimana proses taaruf berlangsung selama tiga bulan belakangan ini antara F dan H.

Pada awalnya F dan H tidak sama sekali dipertemukan, namun ceritalah yang dipertemukan. maksudnya antara Ustadz dan Ustadzah saling mempromosikan bagaimana bobot, bibit dan bebetnya muridnya itu. Ustadz mempromosikan si F dalam kehidupannya seperti apa kepada ustadzah juga sebaliknya.

Akhirnya F dan H sama-sama membuat CV atau semacam biodata mulai dari hal apa yang disukai dan tidak, berapa besar gaji, komitmen hubungan dan lain-lain. Kemudian CV yang telah dibuat saling ditukarkan, Cv si F diberikan ke H dan juga sebaliknya. Proses penukaran Cv pun dilakukan oleh ustadz dan ustadzah, sehingga secara fisik baik itu F dan H tidak pernah bertemu dan bahkan tidak tahu seperti apa wajahnya.

Setelah semuanya saling suka dengan CV calonnya masing-masing, barulah F dan H dipertemukan secara fisik, namun tetap didampingi oleh kedua gurunya. Berempat saling berbincang hampir dua jam lamanya, dan terjadilah kesepakatan diantara calon pasangan ini, mereka memiliki tujuan yang sama, yaitu menikah.

Pantas saja, ketika saya mengantarkan F ke rumah H, di tengah jalan sempat lupa blok yang mana, ternyata F ini pernah satu kali ke rumah H untuk berkenalan dengan orang tua H. Awalnya saya tertawa mengapa sudah punya pacar, kok lupa rumah pacarnya. Ternyata mereka memang belum lama kenal dan belum terlalu dekat secara fisik.

Akhirnya pertemuan keluarga yang baru pertama ini berlangsung lancar, dan H menerima kedantangan F, seminggu kemudian F dan H melangsungkan Khitbah (istilah tunangan). Mungkin kedepannya mereka akan melangsungkan pernikahan. Amin

AKHIR KATA
Alhamdulilah dengan saya mengantarkan F, akhirnya saya tahu bagaimana proses ta'aruf yang benar itu, taaruf yang benar itu harus di dampingi oleh guru atau siapapun, sehingga bukan berdua saja yang saling memperkenalkan diri.

Share this article :
+
0 Komentar untuk "Ta'aruf yang Benar Untuk yang Sungguh-sungguh Ingin Menikah"

 
Template By Kunci Dunia