Pengalaman Menemani Istri Ke Bidan dari Awal Kehamilan Hingga Melahirkan

Menerima kabar bahwa istri sudah positif hamil, senang bukan kepalang rasanya, terlebih ini adalah anak pertama setelah kami menikah tiga bulan. Allah swt sudah mempercayakannya kepada kami, hanya tinggal kami yang berusaha bagaimana cara menjaganya.

Kontrol pemeriksaan ibu hamil setiap bulannya sangat diwajibkan sejak dini, pemeriksaan sejak dini meminimalisir ketidak normalan janin. Jadi jika diketahui sejak dini, resiko yang tidak diinginkan bisa dihindari.

Saya sebagai suami selalu menemani istri ke bidan atau dokter kandungan setiap bulannya. Bahkan jika memang istri sedang ada keluhan meskipun belum dari jadwal dari pemeriksaan. Agar bidan atau dokter bisa memberi anjuran-anjuran selama masa kehamilan.



PEMERIKSAAN IBU HAMIL
Pemeriksaan baik oleh bidan maupun dokter kandungan bisa dilakukan dengan tiga metode, yakni metode pemeriksaan manual, dengan alat dan keluhan sang ibu. Pemeriksaan manual pada umumnya bidan akan memegang perut ibu dan merasakan janin di dalamnya, ukuran janin bisa di tentukan secara manual menggunakan jari tangan, jika janin sudah ataupun belum sesuai dengan usia kehamilan, biasanya akan di rekomendasikan beberapa menu makanan ataupun vitamin.

Pemeriksaan dengan alat pada umumnya dengan metode USG, hal ini sangat penting sekali untuk mengetahui janin secara visual. Istri sendiri periksa USG hampir setiap bulan, walaupun ada bidan yang mengatakan untuk tidak sering USG, namun ada juga bidan yang menyarankan untuk USG setiap kali pemeriksaan, hal ini karrna setiap hari kondisi janin bisa berubah ubah sesuai usia kehamilan.

MERASA BAHAGIA SETELAH USG

Betapa bahagianya jika sudah melakukan pemeriksaaan USG, saya dan istri bisa melihat kondisi calon buah hati sebelum launching ke dunia. Rasa tenang sekali jika mendengar kabar semuanya baik-baik saja, terlebih jika menggunakan USG 4D.

MEMILIH BIDAN/DOKTER
Pentingnya memilih dokter atau bidan menjadi salah satuo pertimbangan ketika istri hamil, semuanya dikondisikan dengan budget juga jarak ke klinik atau rumah sakit.

Saya sendiri memilih bidan dengan menggunakan BPJS, hal ini agar bisa menininalisir budget, pasalnya pernah suatu ketika periksa ke dokter kandungan dengan biaya mandiri, ternyata sekali pemeriksaan menghabiskan biaya sekitar IDR500ribuan. Jika menggunakan bpjs saya bisa menghemat biaya dan mengalokasikannya dengan kebutuhan bayi setelah dilahirkan.

Namun jika anda memiliki budget lebih, mungkin dokter kandungan bisa menjadi rekomendasi terbaik, bukan artinya bidan tidak memberikan yang terbaik. Semuanya sama saja menurut saya yang pernah memeriksakan istri baik ke dokter ataupun bidan.

MENANYAKAN BEBERAPA PERTANYAAN KE BIDAN/DOKTER
Ketika saya menemani istri melakukan pemeriksaan ke bidan ataupun dokter, saya mengajukan beberapa pertanyaan seputar ibu hamil mulai dari asupan makanan bergizi,kegiatan apa saja yang harus daaan tidak boleh dilakukan.

Ketika melakukan pemeriksaan USG pun kami menanyakan seputar kondisi janin,misalnya kondisi air ketuban, plasenta ,posisi bayi , berat badan bayi dan lain sebagainya. Hal ini dimaksudkan agar ibu hamil bisa menjaga janin serta meminimalisir terjadinya hal yang tidak diinginkan kedepannya.

ISTRI SIAP MELAHIRKAN
Setelah 37 minggu istri hamil (menurut perhitungan dokter dan bidan), istri saya merasakan rembes, namun dia juga agak bingung apakah ini air kencing, keputihan atau ketuban. Mengingat masa kehamilan sudah mencapai 37 minggu, akhirnya saya pun segera membawa istri ke bidan yang biasa kami kunjungi.

Setelah melakukan pengecekan, ternyata sudah mulai pembukaan pertama. Namun hal yang aneh ialah, istri tidak merasakan mulas sedikitpun, karena air ketuban yang terus keluar sehingga membuat oksigen pada bayi semakin menipis.

Akhirnya istri di rujuk ke rumah sakit terdekat untuk tindakan lebih lanjut. Sesampainya di UGD rumah sakit, kami pun langsung masuk ke ruang bersalin, menurut petugas yang sudah memeriksa istri, bahwa secepatnya bayi harus segera dilahirkan.

Ada dua kemungkinan istri melahirkan, dengan melahirkan secara normal atau melalui operasi caesar. Rasa mulas yang hanya muncul sedikit membuat dokter menyarankan untuk melakukan pemberian induksi. Induksi ialah proses pemberian obat perangsang rasa mulas bagi ibu yang akan melahirkan, dengan dosis yang tepat, maka seseorang yang akan melahirkan namun tidak ada rasa mulas sedikitpun, akan terangsang mulas dengan obat ini.

Rasa mulas yang dibuat memang sangat menyakitkan bagi ibu hamil, terbukti istris aya merintih kesakitan pada saat induksi sudah di masukan kedalam infus. Selama infus masih berjalan, maka rasa mulas pun akan terus berlangsung tak terhentikan.

Setelah tiga jam induksi, istri meminta istirahat dan meminta di lepas infusan yang mengandung obat perangsang tersebut, akhirnya setelah satu jam kemudian masuk ke dalam tahap pembukaan 7-8, dan alhamdulilah setelah satu jam dari pembukaan 8, istri sudah melahirkan secara normal.

KESIMPULAN
Menemani serta memberikan support kepada istri yang sedang hamil merupakan kewajiban seorang suami, dengan dukungannya lah istri bisa bertahan hingga melahirkan. Oleh karenanya peran suami amatlah penting baik itu secara fisik maupun mental. Belajarlah dari yang sudah berpengalaman akan hal ini,misalnya orang tua ataupun kerabat dekat, semuanya bisa berjalan dengan lancar asalkan ada niat usaha dan doa

.

Share this article :
+
0 Komentar untuk "Pengalaman Menemani Istri Ke Bidan dari Awal Kehamilan Hingga Melahirkan"

 
Template By Kunci Dunia