Pengalaman Bekerja menjadi Operator, QC, Staff dan helper Lebih Baik Mana?

Pengalaman adalah guru yang paling baik, dengan pengalamanlah kita belajar dimana letak kesalahan dan mencegahnya terjadi dimasa yang akan datang. Pengalaman bekerja sejak saya lulus SMA hingga kuliah bisa dikatakan lumayan banyak, ada yang hanya satu hari bekerja hingga 2 tahun bekerja, mulai dari Operator produksi disebuah pabrik, Quality control, helper hingga Staff.

Oleh krena itu saya ingin berbagi pengalaman bagaimana rasanya bekerja ditiap-tiap bagian, manakah yang lebih tidak capek? manakah yang gajinya besar? manakah yang nyaman?

1. PENGALAMAN SEBAGAI OPERATOR PRODUKSI
Saya lulus dari SMA pada tahun 2012, dan saat itulah saya bersama teman-teman di sekolah mencari pekerjaan kesana kesini, walaupun kita mencarinya sekitar 5 orang, tapi kami masuk dibeda-beda perusahaan, disinilah awal saya bekerja di perusahaan.

Saya mendapatkan pekerjaan sebagai Operator mesin perajut benang menjadi kain, tapi ini tidak berlangsung lama bahkan hanya dalam hitungan jam saja, saya bekerja untuk pertama kalinya pada hari jumat dan pada kesesokan harinya saya tidak masuk kerja lagi (melarikan diri), memang tidak sopan tapi inilah kenyataanya, saya tidak nyaman dengan posisi itu ditambah gaji karyawan magang hanya sekitar Rp.1,2juta, belum ongkos hingga makan siangnya.
Baca Juga : Pengalaman Bekerja di pabrik Yamaha sebagai Operator Produksi
 Kelebihan menjadi operator produksi
Enam bulan kemudian saya bekerja lagi diperusahaan automotif (Yamaha motor), disana saya bekerja sebagai operator mesin selama dua tahun,dan 2 tahun berikutnya di pabrik automotif Honda, jadi pengalaman saya bekerja sebagai operator adalah 4 tahun. Jujur ini pekerjaan yang sangat cocok untuk saya, kelebihan bekerja sebagai operator tidaklah rumit, saya hanya berdiri didepan mesin dan mengoperasikan mesinnya hingga nproduk jadi, saya tidak harus tahu kualitasnya karena memang sudah ada QC (Quality control), tidak harus tahu memperbaiki mesin karena sudah ada maintenance dan tidak harus pusing memikirkan masalah apa yang terjadi di pekerjaan karena sudah ada atasan.

Sebagai operator saya hanya diharuskan membuat produk sesuai dengan target perharinya, bagaimana jika tidak memenuhi target? apakah saya di marahi oleh atasan? jawabannya tidak, seorang operator produksi yang tidak memenuhi target pasti ada alasan yang membuat hal itu terjadi, misalnya mesin berhenti karena trouble, perbaikan oleh maintenance, perbaikan kualitas, mati listrik dsb. jadi saya hanya tinggal menulisnya di laporan saja, mungkin atasan saya yang akan kena marah oleh atasannya lagi (manager) karena tidak bisa mengatur anak buahnya untuk target.

Kekurangan menjadi operator produksi
Dibalik kelebihan pasti ada kekurangan, karena seorang operator bekerja mengoprasikan mesin selama 8 jam tanpa duduk, mungkin ini adalah kekurangannya, saya tidak pusing oleh pikiran namun saya lelah karena pekerjaan ini lumayan menguras tenaga, apalagi ketika bekerja di Yamaha saya mengoprasikan meisn bubut Velg motor 150CC hingga 500CC, terbayang bukan bagaimana beratnya, ditambah lagi selama 8 jam berdiri tanpa duduk sama sekali dalam satu hari, dan itu terus berulang-ulang selama 4 tahun lamanya.

2. PENGALAMAN BEKERJA SEBAGAI QC
QC atau quality control adalah seseorang yang bekerja untuk menjaga kualitas produk yang dihasilkan oleh operator produksi, mungkin pekerjaan ini tidak terlalu menguras tenaga karena melakukan pengecekan itu berdasarkan frekuensi ataupun interval waktu, misalnya pengecekan satu barang hanya per-50 barang yang keluar dari mesin, jika satu barang yang dihasilkan memkaan waktu 1 menit, maka operator QC melakukan pengecekan setiap 50 menit sekali.

Kelebihan menjadi QC
Karena tugasnya hanya melakukan pengecekan perberapa menit atau berapa jam sekali maka seseorang yang bekerja pada bagian ini akan terasa santai, tidak menguras tenaga. Inilah yang dirasakan oleh saya ketika bekerja sebagai QC di Yamaha walalupu hanya 2 bulan saja, selain itu kita akan tahu bagaimana cara menggunakan alat ukur, dimana ini akan berguna jika kita bekerja kembali diperusahaan lain.

kekurangan menjadi QC
Tanggung jawab sebagai QC amatlah besar, karena kualitas sebuah produk tergantung QC, misalnya jika produk kurang dari standar yang ada dan bisa sampai lolos kepada customer maka QClah yang akan dicari akan kesalahannya.

3. PENGALAMAN BEKERJA SEBAGAI HELPER
Helper atau biasa disebut bongkar muat memang dibutuhkan oleh perusahaan dibidang pergudangan, saya pernah menjadi karyawan bongkar muat diperusahaan pabrik susu di daerah Cikampek, awalnya ragu untuk mengambil bidang kerja ini, Helper di pabrik ini membutuhkan lulusan SMA sederaajat sedanglan pada waktu itu saya sudah memiliki ijazah D3, mau bagaimana lagi saya sangat membutuhkan pekerjaan saat ini dan akhirnya saya memutuskan untuk memakai ijazah SMA.
Baca Juga : Pengalaman Bekerja di sanghiang (Pabrik susu) sebagai helper
Bekerja di bidang ini sama seperti operator yakni 8 jam kerja dalam satu hari, berbeda dengan operator yang fokus terhadap waktu mesin berjalan, saya sebagai helepr bisa bekerja jika kendaraan ekpedisi datang untuk mengambil barang dari gudang.

Di bidang ini ada yang namanya team, dimana satu team terdiri dari 4 orang, 2 orang sebagai helper yang mengangkut barang dari Dock ke dalam truk container, satu orang sebagai checker untuk memastikan barang yang dimasukan sesuai dengan faktur yang ada dan satu orang sebagai operator forklift yang membawa barang dari gudang/rak ke loading dock.

Dalam satu hari satu team bisa harus menyelesaikan muat atau bongkar barang 5 hingga 7 container, satu container 40 feet diisi kurang lebih 2000 dus, satu dus berisi karton atau susu kaleng seberat 10Kg hingga 20Kg. Sulit dibayangkan tapi ini memang kenyataanya, dua hari bekerja sebagai helepr tubuh saya terasa kaku dan sulit digerakan karena memang belum terbiasa, hingga yang paling parah saya tidak bisa jongkok selama 3 hari karena keram pada otot, namun sudah 2 minggu mulai terbiasa dengan pekerjaan ini.

Mungkin diatas adalah salah satu kekurangan bekerja sebagai helper, tapi dibalik itu ada kelebihannya yaitu saya bisa mendapatkan uang tips dari sopir ekspedisi 25rb dari satu container, dikalikan 6 sudah mengantongi Rp.100rban, dan jujur ini lebih dari cukup karena gaji bulanan tidak terpotong sama sekali, jadi bisa ditabung lebih banyak.

Kelebihan yang lain adalah jika akhir bulan biasanya pengiriman barang melalui ekspedisi berkurang karena sudah cukup stok, jadi paling tidak satu hari bisa hanya 2 container saja.

Namun  satu bulan bekerja disiini saya memtuskan untuk resign karena jujur saya tidak sanggup bekerja berat, saya lebih mementingkan kesehatan saya kedepannya.

4. PENGALAMAN BEKERJA SEBAGAI STAFF
Setelah semuanya akhirnya saya bisa merasakan sebagai staff di suatu perusahaan, dulu ketika masih bekerja sebagai operator produksi sangat mengidamkan bagian ini karena menurut saya bekerja sebagai staff sepertinya enak yaa, tidak capek hanya duduk didepan komputer. Namun itu justru hanya pandangan sebelah mata saja, dan akhirnya saya bisa merasakan apa yang mereka (staff) rasakan.

Saya akan menceritakan enaknya dulu bekerja sebagai staff, pada awal menjabat sebagai staff memang enak karena saya masih dibimbing oleh senior dan pekerjaan pun tidak banyak, pada awal masuk kerja tidak terlalu sibuk, mungkin hanya merapihkan sisa laporan kemarin saja, sibuk dimulai ketika akan mulai pulang kerja karena banyak laporqan yang harus diselesaikan.

saya menjabat sebagai staff pengamanan produk, bekerja melalui komputer dan CCTV saja, selain itu saya bisa negosiasi dengan HRD jika melakukan kecerobohan, misalnya telat masuk kerja, surat izin lupa dibuat atau semacamnya, karena departement saya dengan department HRD sama-sama bekerja sama, jadi jika salah satunya mengalami kessalahan kami bahu membahu, jika kecerobohan dlakukan oleh operator produksi biasanya langsung kena teguran oleh HRD.

Semakin lama bekerja sebagai staff beban kerja pun semakin banyak, jobdesk semakin banyak dan masalah semakin menjadi-jadi. Saya tidak capek tenaga bekerja disini, tapi otak saya dipaksa bekerja semaksimal mungkin, sampai-sampai masalah dipekerjaan terbawa hingga kerumah dan kurang nyaman tidur. Rasanya kurang bersemangat jika keesokan harinya masuk kerja, pasti masalah yang kemarin belum selesai, dan harus segera diselesaikan sebelum masalah baru bermunculan.

Jujur lebih baik capek tenaga diabndingkan capek pikiran, yaa mumpung saya masih muda mungkin saya bisa berkata seperti ini, lain cerita jika saya sudah berumur. Akhirnya saya memutuskan untuk resign sebagai staff setelah 6 bulan bekerja disini, lebih lengkapnya baca dibawah kisah mengapa saya resign sebagai staff
Baca Juga : Alasan mengundurkan diri dari Staff di CSI


Tag : Pekerjaan
0 Komentar untuk "Pengalaman Bekerja menjadi Operator, QC, Staff dan helper Lebih Baik Mana?"

Silahkan Komentar sobat !
Berkomentarlah dengan sopan dan tidak menaruh link aktif!
Baca Aturan Berkomentar

Back To Top